Ada satu hal
yang selalu saya inginkan darinya itu adalah sebuah sapaan dan senyuman. Yah...
hanya itu yang saya inginkan
meskipun itu tidak pernah terjadi. Saya adalah seorang mahasiswi yang boleh
dibilang kuper (kurang pergaulan) menurut orang-orang. Yah... itu karena saya “belum pernah pacaran”, ketika saya
menulis hal tersebut, apakah kalian atau siapapun membaca ini akan percaya “saya yakin kalian pasti tidak akan
mempercayai hal itu” bukan maksud saya untuk negative thinking pada kalian tapi hal
itu sudah sering terjadi. Dulu ketika saya cerita kepada teman khususnya pada “cowok” bahwa saya belum pernah pacaran
sampai 19 tahun, mereka tidak percaya atas apa yang saya katakan, tapi hal itu
benar adanya.
Itu terjadi
kira-kira semester 3, itu terjadi ketika rezeki “Tuhan” turun, dan juga
memberikannya kepada saya, meskipun itu hanya rezeki kecil. Yah..Yang saya
inginkan hanya ingin melihat orang itu tersenyum melihat... dan menyapa saya,
tapi... hal tersebut tidak akan pernah terjadi sampai kapan pun meskipun
keinginan itu dari lubuk hati saya yang paling dalam. Yah... orang itu, selalu
membuat saya tersenyum ketika bertemu dengannya tapi... untuk mengharapkan
senyuman balasan itu tak akan pernah terjadi sampai kapan pun. Bahkan untuk mengharapkan
hal tersebut tidak akan pernah terjadi. Saya takut untuk berharap terlalu
tinggi karena saya takut untuk jatuh pula terlalu sakit. Hal itu terjadi ketika
hujan sedang turun, kebetulan... saat itu saya duduk dikoridor yang tidak jauh
dari pintu masuk fakultas, kulihat orang itu berjalan yang dengan sibuknya
tidak memperhatikan orang-orang yang ada disekitarnya, orang itu hanya sibuk
merapikan dirinya karena kehujanan, saat itu juga pertama kalinya saya melihat
seseorang begitu “tampan”. Tapi... orang itu untuk berpaling saja tidak...
hanya berjalan dan berjalan sampai berada di belokan hingga orang itu menghilang.
Untuk pertama kalinya saya melihat ciptaan Tuhan yang
begitu indah. Ketika hujan, hanya orang itu yang
teringat pertama kali, entah kenapa hati saya ingin selalu mengingatnya, selalu
membayangkannya, selalu mengharapkan senyumnya. Tapi... hal itu sangat
mustahil. Entah kenapa... wajah orang itu selalu terbayang. Untuk pertama
kalinya saya merasakan hal ini, untuk pertama kalinya saya merasa sakit yang
tak tahu bagaimana untuk menghilangkannya. Saya selalu mengingat satu hal dari
agama saya, bahwa jodoh yang ditakdirkan untuk kita akan muncul suatu hari
nanti yang entah kapan bertemunya. Yah... jodoh itulah yang selalu membuat saya
gelisah... ketika memikirkan hal itu membuat saya risih. Ada alasan yang
membuat saya untuk memegang status ini, itu karena “orang tua” ia saya memang
memegang status ini karena orang tua, mereka hanya menginginkan anak-anaknya
sukses dan tidak terganggu oleh hal-hal yang tidak penting. Itulah alasan
mengapa saya masih berstatus single hingga saat ini, tapi hal itu yang sangat
yang saya syukuri karena saya masih sendiri hingga saat ini.
Entah kenapa...
orang itu selalu muncul dan kadang bertemu tanpa sengaja, saya tidak tahu
kenapa hal tersebut terjadi. Kadang saya berpikir apa betul setiap manusia
terhubung dengan benang merah, entahlah saya tak tahu. Hari itu saya masih
ingat dengan jelas, kamis...yah... itu adalah hari kamis, aku dan teman lainnya
sedang mengerjakan tugas kuliah di perpustakaan fakultas, saya berada di tempat
itu lama sekali... setiap waktu ada yang keluar ada pula yang masuk. Ketika...
tiba-tiba orang itu muncul dan duduk jauh dari posisi saya tapi berada satu
meja dengannya. Ingin sekali saya memandangnya lama, tapi... hal tersebut mustahil
untuk terjadi sehingga yang saya lakukan hanya mencuri-curi pandang. Memang
agak memalukan tapi saya tak punya daya untuk melakukan hal lain, selain itu. Memang...
ada rasa bahagia ketika bertemu dengannya tanpa sengaja atau boleh dibilang
kebetulan, tapi ada rasa yang jauh lebih sakit ketika dia pun tak mengenal saya,
ataupun untuk menyukai saya. Rasanya sangat sakit... entah bagaimana rasa ini
bisa muncul, entah bagaimana rasa ini makin berkembang,dan entah bagaimana
orang itu selalu bertemu secara kebetulan. Yang membuat saya menyukai orang itu
adalah dia selalu terlihat segar, terlihat sangat baik, dan terlihat sangat
ramah. Kutuliskan ini untuknya. Kadang
setiap orang telah terikat oleh sesuatu, itu adalah sebuah benang. Benang itu
tidak bisa dilihat tidak pula dapat di sentuh tapi... benang itu hanya dapat di
rasakan... banyak yang berusaha menyentuh maupun melihatnya tapi... lagi-lagi
mereka gagal dan akhirnya mencoba untuk berhenti... tapi ketika berhenti tak diduga
benangnya terlihat dan dapat di sentuh...saya takut jika hal itu terjadi maka
saya hanya akan menghilang
tanpa jejak... tanpa ada yang tahu... seperti sebuah gelembung... yang ketika
terlihat akan sangat indah dan begitu cantik karena memancarkan berbagai warna
pelangi, tapi ketika disentuh dengan seketika gelembung itu lenyap tanpa
bekas.... Ini berlangsung terus menerus terkadang
membuat saya risih sendiri, saya tidak tahu bagaimana menghilangkannya dari
otak ini, bagaimana menghilangkannya dari hati ini, apa zaman seperti ini masih
ada yang berkelakuan seperti saya, apa masih ada yang secara sembunyi-sembunyi
mengamati seseorang, apa masih ada yang sama seperti saya yang terlalu tinggi
untuk mengharapkan yang seharusnya tidak akan terjadi, apa masih ada yang
seperti saya ingin memimpikan wajahnya muncul ketika tidur, apa masih ada orang
yang secara tiba-tiba ingin melihatnya dan merindukannya, apakah saya pantas
untuk berdampingan dengannya, apakah saya bisa suatu saat nanti bisa mempunyai
pacar, apakah bisa...
Yah... itulah
yang selalu saya tanyakan pada diri saya sendiri.. jika semua pertanyaan itu
bisa terjawab maka satu hal yang dapat saya katakan “Terima Kasih”yah.. hanya terima
kasih. Kadang saya ingin menarik diri
dan menutupnya rapat-rapat dari lembar hidup saya. Saya ingin itu hanya sebuah
kunjungan yang datang tanpa meninggalkan bekas, tanpa meninggalkan sesuatu...
dan ketika dia pergi saya akan menutupnya... dan tidak membukanya lagi sampai
kapan pun. Saya ingin pintu itu tidak akan pernah terbuka lagi dan terkunci
untuk selamanya, tapi kata hati ini tidak bisa di atur sesuka hati. Yang mudahnya
untuk di buka dan ditutup seperti pintu. Dan saya... tidak tahu cara
menyelesaikannya...tidak tahu menutupnya... Setiap kali melihatnya pintu ini semakin terbuka...terbuka
semakin lebar dan tidak tahu cara menutupnya sedikit demi sedikit... orang itu
membuat hati saya semakin lama menjadi bertambah besar... yah... orang itu..
yang entah kapan saya bisa mengetahui namanya langsung dari mulutnya... yang
entah kapan bisa berbicara dengannya, bisa menyapanya dengan senyum yang
terbentuk di bibir ini. Orang itu... kapan bisa ku ketahui namanya dan bisa
saling berbicara
dengannya. Kapan Sebuah Sapaan Dan Senyuman itu akan terbalaskan........sekian.
Saya adalah
seorang mahasiswi yang sedang menempuh Perguruan Tinggi, saya senang bisa
berbagi cerita dengan “Pelangi Kata”. Saya berharap jika tulisan saya tidak
bagus ataupun tidak sesuai dengan keinginan kalian, saya minta maaf. Tapi
tolong hargailah, karena sebuah penghargaan akan melapangkan hati seseorang
yang kalah...kembali pada profil saya. Kira-kira saya sudah berumur 19 tahun
setiap hari saya selalu mendambakan kapan saya bisa menyalurkan hobi saya menulis... entah angin
apa yang datang tiba-tiba saya kepikiran untuk mencari lomba menulis. Tanpa
terduga saya menemukan lomba “Pelangi Kata” yang secara kebetulan mensyaratkan
untuk “Curhat”. Meskipun ini curhat, saya berharap kalian jangan seperti
saya... yang hanya bisa bersembunyi mengamati seseorang seperti penguntit.
Ha...ha... sekian dari saya Pertanda “Uun Letari”. ^_^....^_^...